Perbedaan budaya dan etnis penduduk Indonesia sangat besar. Hal ini
terjadi antara lain karena banyaknya suku bangsa yang mendiami kepulauan
di Indonesia. Kelompok-kelompok penduduk yang saling berbeda ini
memiliki keistimewaan masing-masing yang sekaligus menjadi ciri-ciri
khas regional daerah tersebut.
Masing-masing suku juga memiliki kebanggaan, kelemahan, juga
nilai-nilai dan norma-norma. Semua ini dapat terlihat dalam kebiasaan
dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-harinya. Tentunya di antara
perbedaan itu juga ada kesamaan, karena pada dasarnya mereka berasal
dari satu bangsa. Bangsa Indonesia.
Nuansa kesamaan dan perbedaan antar suku sangatlah bervariasi. Hal
ini dapat saya rasakan kalau saya sedang mengunjungi kota-kota di
beberapa pulau di Indonesia. Berinteraksi langsung dengan berbagai
penduduk yang berada di berbagai pulau dan kota di Indonesia menyebabkan
saya harus selalu belajar berpikir dan berperilaku seperti penduduk
setempat untuk dapat mengerti cara berpikir mereka dan untuk memberikan
respect pada mereka.
Dalam artikel ini saya ingin menuliskan sedikit tentang elemen-elemen
dalam visie (prinsip) kehidupan yang dapat saya temukan dalam kehidupan
sehari-hari dari penduduk Indonesia. Kalau di Belanda orang berbicara
tentang penduduk Indonesia, maka yang pertama-tama ada di benak mereka
adalah orang Jawa. Hal ini kalau menurut saya sama sekali tidak ada
hubungannya dengan posisi penduduk Jawa yang dominant tetapi lebih
karena alasan perkembangan fakta-fakta historis saja. Dua hal yang tidak
akan saya bicarakan di sini.
Sekali lagi dalam tulisan ini tidak akan dibicarakan tentang faktor
dominansi dan fakta historis. Saya hanya akan membicarakan tentang
elemen-elemen yang menurut saya bisa mendasari prinsip-prinsip kehidupan
penduduk Indonesia secara umum, terlebih-lebih bagi penduduk Jawa.
Menurut pengamatan saya prinsip-prinsip kehidupan penduduk Indonesia
dapat dibagi dalam 6 (enam) kelompok.
1. Terima nasib
Satu dasar pemikiran yang mempercayai bahwa bersamaan dengan
kelahiran, factor nasib seseorang sudah ditentukan. Biasanya factor
nasib dalam kehidupan akan muncul di permukaan bila sesuatu yang tidak
menyenangkan terjadi pada seseorang. Dalam hal ini sikap yang akan
diambil oleh yang bersangkutan adalah:” Ya, sudahlah. Terima saja
nasibmu. Itu sudah takdir dalam kehidupanmu”.

Sikap nrimo, karena menyadari adanya factor Nasib tersebut. Misalnya
seseorang yang diperlakukan dengan tidak adil. Dia tidak akan
memberontak tetapi pada akhirnya akan mengembalikan semuanya pada adanya
factor nasib. Walaupun sangatlah mungkin bahwa sebelum seseorang
mengambil keputusan tersebut dia sebelumnya telah beberapa kali
berusaha untuk memperbaikinya/ memperjuangkannya. Tetapi gagal karena
factor-faktor yang ada di luar jangkauannya.
Lain halnya bila terjadi sesuatu yang menyenangkan jarang orang akan
mengembalikannya pada adanya factor nasib. Lupa bahwa dia juga mempunyai
nasib yang baik.
Hal ini sangat berbeda dengan prinsip yang ada dalam kehidupan di
dunia Barat. Mereka pada umumnya percaya bahwa Nasib itu kita sendiri
yang menentukan. Jadi kita sendiri yang harus memperjuangkannya dan
yang menentukannya. Semua harus ada di tangan kita sendiri .
2. Hiërarchie
Seseorang yang dapat menerima adanya factor nasib akan mudah menerima
adanya faktor hiërarchie dalam kehidupannya. Suatu ketidak samaan
adalah hal yang biasa. Suatu pekerjaan yang fungsinya
“mengerjakan”sesuatu untuk orang lain dalam hal ini bukanlah dianggap
sebagai hal yang merendahkan diri. Jadi pekerjaan semacam supir, koki,
baby sitter, bukanlah pekerjaan yang hina.
Pekerjaan yang harus disyukuri karena mungkin memang sudah menjadi
bagian dari hidupnya. Sudah menjadi nasibnya. Untuk dapat menimbulkan
rasa bersyukur atas apa yang dimilikinya, biasanya sejak kecil telah
diajari untuk tidak selalu melihat “ke atas”, tetapi sering-sering
melihat “ke bawah”.

Dan bagaimana mereka menempatkan hiërarchie dalam tingkatannya
masing-masing sangatlah menarik untuk diamati. Misalnya: Dalam kehidupan
rumah tangga yang berhubungan dengan para personeel yang membantu
kelancaran jalannya roda rumah tangga.
Terlihat bahwa seorang supir dan seorang baby sitter menempati
kedudukan tertinggi. Kemudian disusul oleh seorang ibu Koki, tukang
beberes rumah/ cuci dan tukang kebun. Mungkin penempatan hiërarchië ini
berdasarkan pada pendidikan yang harus ditempuhnya untuk mendapatkan
pekerjaan itu, mungkin juga berdasarkan gaji bulanan yang diterimanya,
mungkin juga berdasarkan “seragam” yang dikenakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari terlihat bahwa para orang tua di hari
tuanya tetap berada di rumah bersama keluarga. Mereka tetap dapat
menjalankan fungsinya sebagai orang yang bisa dimintai nasihatnya.
Terutama jika kita melihat pengalaman hidup dan pengetahuan tentang
tradisi yang mereka miliki. Berlainan sekali dengan yang terjadi di
Negeri Belanda. Di Belanda banyak sekali para orang tua yang tinggal di
Bejaardenhuis, dan hampir tidak pernah dikunjungi oleh putera puterinya.
Seolah-olah mereka “dibuang”.
3. Rasa Hormat dan menghormati
Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah Negara yang penduduknya
sangat menghargai norma-norma dan nilai-nilai dalam kehidupan
sehari-harinya. Di Indonesia kehormatan adalah salah satu hal yang
sangat penting dalam kehidupan sehari-harinya. Bila kehormatan seseorang
dilanggar maka dia akan menjadi malu. Dan karena rasa malu ini bisa
menyebabkan dia menjadi mata gelap.
Salah satu contoh yang jelas adalah, betapa tersinggung dan malunya
seorang warga Bugis yang dalam tidurnya kentut kecil tetapi entah karena
bunyinya yang terdengar aneh atau karena hal yang lain, yang hadir dan
mendengarnya semuanya tertawa… Akibatnya dia mengambil parangnya dan
dengan membabi buta menusuk dan melukai beberapa yang hadir.

Banyak di antara kita yang sangat peka terhadap celaan/teguran.
Terutama bila dilakukan di depan orang banyak. Juga bila teguran itu
dilakukan di depan orang banyak pada siapa dia sesungguhnya sangat
menggantungkan rasa hormatnya.
Untuk menghindari bahwa seseorang akan merasa dipermalukan maka orang
berusaha untuk tidak menghina dan tidak membuat marah serta menyakiti
hati orang lain.
Banyak cara dilakukan seseorang agar orang lain tidak tersinggung
atau menjadi malu misalnya dengan: menunjukkan rasa hormat sebagaimana
mestinya; tidak berbicara dengan kedua tangan bertolak pinggang; atau
menyapa seorang yang lebih tua dengan bentuk sapaan sebagaimana
mestinya. Atau sejak kecil diajarkan untuk misalnya kalau akan mencela
orang lain, harus dilakukan setelah yang bersangkutan tidak mungkin
mendengar lagi percakapan itu. Jadi kita tidak menyakiti dan tidak
membuat orang marah atau dipermalukan.
4. Halus
Satu kebiasaan sikap yang pada awalnya termasuk dalam tata tertib
kehidupan “istana” dan kalangan atas. Kebiasaan ini dilakukan terutama
untuk menghormati “rajanya”. Suatu sikap yang halus sebetulnya juga
berhubungan erat dengan olah batiniah dan latar belakang social ekonomi
serta pendidikan seseorang.
Dengan melalui olah batin ini, akan mudah dicapai suatu sikap hidup
yang lembut misalnya: Lembut berbicara, tidak terlalu mengumbar kata,
menghindari rasa cepat marah, sopan santun pada sesamanya dan tidak
kasar dalam berkata dan bertindak. Belajar mengendalikan diri dan hidup
dengan dasar “relativering” sangat mendukung prinsip dan sikap hidup
yang halus.
Keadaan lingkungan sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi
kebiasaan kehidupannya. Juga pendidikan memberikan sumbangan dalam cara
berpikir dan berperilaku pada seseorang.
Seseorang yang tidak terlalu banyak bicara di Indonesia, bukanlah hal
yang aneh. Justru dengan sikapnya itu kita bisa melihat sifat bijaksana
yang dimilikinya. Misalnya, seseorang tidak perlu menggunakan kata-kata
kasar, atau mencaci buta dan membentak-bentak orang lain untuk
menyatakan ketidak setujuannya.
Gunakan cara yang halus dan sesubtiel mungkin’, karena dengan cara
ini, saya yakin akan lebih bisa mencapai sasarannya. Daaaannn, tidak
akan terjadi perang… Tentu semua ada kekecualiannya..
5. Anti-individualisme
Sebetulnya setiap orang Indonesia merasa dirinya menjadi anggota dari
suatu kelompok tertentu. Sangat mustahil kalau seseorang tidak
membutuhkan kehadiran orang lain. Apapun alasannya. Bisa kita bayangkan,
bagaimana bisa berdiskusi kalau seseorang mengatakan saya tidak perlu
kehadiran orang lain. Nanti khan dia akan meracu sendiri. Dan bisa-bisa
jadi penghuni Rumah Edan di Heillo.
Kelompok yang terpenting dalam hal ini adalah: Keluarga. Siapa yang
kehilangan rasa hormatnya entah karena kesalahan sendiri atau karena
kesalahan orang lain, akan mempermalukan seluruh anggota keluarga yang
bersangkutan. Misalnya, kasus perceraian. Keluarga menjadi marah besar
karena khawatir bahwa perceraian itu akan menghancurkan nama baik
keluarga, atau karena perceraian itu akan merusak status keluarga dalam
kehidupan kemasyarakatannya…

Seorang ayah atau ibu, menginginkan putera puterinya memiliki latar
belakang pendidikan yang tinggi, mempunyai pekerjaan yang bagus, menjadi
orang kaya dan memiliki pernikahan yang berhasil.Bila semua hal ini
bisa tercapai maka seluruh anggota keluarga akan merasa bangga dan
karenanya kehormatan keluargapun akan meningkat di mata masyarakatnya.
Prinsip anti individualism yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari
di Indonesia, kadang juga bisa mempersulit seseorang yang mungkin
memerlukan privacy. Di Indonesia akan sangat sukar untuk menemukan apa
yang disebut dengan kebutuhan privacy. Di Indonesia dimanapun kita
berada selalu ada orang lain. Entah itu saudara, pembantu atau tamu.
Tentu kita bisa mendapatkan privacy kalau kita memang menghendakinya.
Kita bisa mengatakan bahwa dari jam sekian sampai jam sekian jangan
diganggu ya. Tetapi bukan ini yang saya maksudkan. Hal ini berlainan
sekali dengan prinsip orang Barat yang sangat individualis. Mereka
memerlukan kebutuhan privacy yang besar dalam kehidupan sehari-harinya.
6. Harmonie
Prinsip hidup orang Indonesia jelas mengikuti model Harmonis. Dengan
prinsip ini orang biasanya berusaha untuk menghindari setiap konfrontasi
yang timbul. Berbagai cara dilakukan untuk menghindari kemungkinan
terjadinya perselisihan. Biasanya sentilan, atau teguran tidak dilakukan
didepan orang banyak dan disampaikan secara subtiel.
Dalam berkomunikasi hampir selalu digunakan sistem yang indirect dan
implicit. Konteks pembicaraan lebih penting daripada yang diucapkan.
Dalam pembicaraan banyak sekali hal yang harus diinterpretasikan, di
baca dan di dengar dari hal-hal yang tidak diucapkan.
Jadi bisa diumpamakan dengan suatu cadeau, dalam hal ini bungkusan
cadeaunya lebih penting dari pada isinya. Yang juga sangat menyolok
adalah seringnya suatu keputusan ( entah itu keputusan besar atau
kecil) sering kali diputuskan secara bersama. Hal ini tentunya selain
untuk menghindari adanya pertanggungjawaban pada individu tertentu juga
untuk menghindari rasa “Ik, ik , dan Ikkkkkkkkk”.

Enam prinsip hidup yang mendasari kehidupan orang Indonesia, Jawa.
Enam prinsip hidup yang juga telah membentuk saya menjadi seseorang yang
bernama Nunuk seperti yang teman-teman kenal di Baltyra. Enam prinsip
hidup yang mungkin bisa menghindarkan Baltyra dari gegernya perang
Astina dan Pandhawa.
Hal ini bisa kita mengerti karena cara pandang seorang Indonesia
sering kali tidak ditentukan oleh ilmu dan pengetahuan yang dimiliki
seseorang tetapi lebih sering ditentukan oleh posisi dan status
seseorang dalam masyarakat (bungkusan lebih penting dari isinya). Yang
jelas factor assertivitas, sok maha tau, egoicentrisch, kasar, mau
menang sendiri, selalu menyalahkan orang lain dan tidak tepo sliro,
selalu dihindarkan untuk mencapai kedamaian dan kenyamanan dalam
kehidupan sehari-hari. Saya juga bukan orang yang sempurna tetapi saya
mencoba untuk menuju ke sana dengan menata hidup saya sedamai dan
seharmonis mungkin.
Prinsip Hidup di Jepang
1.Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang
adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerjapegawai di Jepang adalah 2450
jam/tahun,.Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9
hari, Seorang pekerjaJepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang
biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh
dikatakan “agak memalukan” di Jepang,
. 2.Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun
bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri denganmenusukkan pisau ke perut) menjadi
ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah danpertempuran
3.Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat
dalam keseharian. Sikap anti konsumerismeberlebihan ini nampak dalam berbagai
bidang kehidupan Supermarket di Jepang rata-ratatutup pada pukul 20:00.
 |
| Hachiko (Seekor anjing setia yang sangat terkenal di Jepang) |
4.Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah
perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. sangat jarang orang Jepang yang
berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua
perusahaan sampai pensiun.
5.Inovasi
Jepang bukan bangsa
penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuanorang dan
kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
6.Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk
bangsa yang tahan banting dan pantangmenyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran
Tokugawa yang menutup semua akses ke luarnegeri, Jepang sangat tertinggal dalam
teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang,bangsa Jepang cepat
beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam jugatidak
membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara,
bijibesi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain
termasuk Indonesia .Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi,
maka 30% wilayah Jepang akangelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun
1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima danNagasaki , disusul dengan kalah
perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumibesar di Tokyo .
Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang
sudahberhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat
(shinkansen) . Mungkincukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang
usahanya hancur dan hampirtersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun
1945 masih mampu merangkak, mulai darinol untuk membangun industri sehingga
menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Moritajuga awalnya menjadi
tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yangmungil ke berbagai
negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang jugacukup
unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini
mulaidiformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Kapan-kapan saya akankupas lebih jauh tentang ini
 |
|
7.Budaya Baca
penerjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia
dalam beberapa minggu sejak buku asingnyaditerbitkan.
8.Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi
kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.Termasuk klaim hasil
pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.Fenomena ini
tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga
sepertiitu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok.
Kerja dalamkelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada
anekdot bahwa “1 orangprofessor Jepang akan kalah dengan satu orang professor
Amerika, hanya 10 orang professorAmerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang
professor Jepang yang berkelompok” .Musyawarah mufakat atau sering disebut
dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok.Keputusan strategis harus
dibicarakan dalam “rin-gi”.
9.Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk
mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempatmerasakan masuk TK (Yochien)
di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti,bento (bungkusan
makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minumanyang
menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa
perlengkapansendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Lepas SMA dan masuk bangkukuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya
kepada orang tua. Teman-temen seangkatansaya dulu di Saitama University
mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dankehidupan sehari-hari.
Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yangitu nanti
mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10.Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak
membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi danbudayanya. Budaya perempuan yang
sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidupsampai saat ini.Budaya
minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda
diJepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak
malah yangminta maaf duluan.Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari
berkata “tidak” untuk apabila mendapattawaran dari orang lain. Jadi kita harus
hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena“hai” belum tentu “ya” bagi
orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset pentingdi Jepang.
Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah,
tidakmenyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya.
Kabarnya tanahyang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang
signifikan, termasukbeberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih
bertahan di dunia pertanian. PertanianJepang merupakan salah satu yang
tertinggi di dunia.